English Bahasa Indonesia

Alumni DKV Angkatan Pertama aktif merangkul komunitas kota Semarang

IMG_20160502_135551

KERJA SAMA dalam berbisnis merupakan keniscayaan. Relasi saling menguntungkan pun menjadi landasan Jessie Setiawati (26) dalam merintis usaha kafe.

Dia merupakan manajer Tekodeko Koffiehuis, sebuah kafe di kawasan Kota Lama, tepatnya di Jalan Letjen Suprapto 44. Belum ada setahun usia kafe ini beroperasi.

Selaku manajer, Jessie mengerjakan banyak hal. Dari membuat konsep sampai mengembangkan bisnis.

“Jadi ada pemilik bangunan yang sekaligus menjadi pemodal. Kami diberi kepercayaan mengelola bangunan ini sepenuhnya,” kata Jessie, Minggu (1/5/2016).

Tim manajerial terdiri atas tiga orang, Jessie bersama Kriski Laras dan Ronny Jonathan. Pada awalnya, Jessie yang tak memiliki latar belakang bisnis food and beverage mantap mengajukan proposal kepada pemilik bangunan.

Dia ingin memfungsikan gedung antik itu menjadi rumah kopi. Semula sang pemilik menginginkan bangunan tersebut menjadi toko batik.

Namun, Jessie dkk merasa yakin rumah di tepi jalan utama ini lebih cocok sebagai tempat nongkrong. Terlebih kafe yang dia konsep menargetkan anak muda sebagai target konsumen.

Dia melihat gaya hidup anak muda adalah kongkow sambil minum kopi. Keyakinan Jessie membuahkan hasil manis ketika si pemilik bangunan setuju.

“Modal pertama buka sekitar Rp 1 miliar. Uang itu digunakan bertahap,” terangnya.

Kali pertama dana itu dipakai untuk merenovasi gedung. Jessie, mengutip beberapa pengamat sejarah, menyebut gedung tempat Tekodeko Koffiehuis dibangun sekitar tahun 1800-an.

Karena sudah tua, banyak sekali yang perlu direnovasi. Pembangunan dilakukan secara bertahap dimulai dari lantai dasar.
Seiring waktu, kafe ini diperluas sampai ke lantai atas dan outdoor. Jessie memperkirakan Tekodeko akan kembali modal sekitar 4-5 tahun.

“Tentu lebih cepat balik modal lebih baik. Kami pun membuat berbagai ikhtiar mewujudkannya,” imbuh dia.

Sesuai konsep awal, dia merangkul komunitas-komunitas anak muda di Semarang dan sekitarnya. Jessie berharap, nama kafe yang dia kelola makin tenar setelah menjadi wadah bagi berbagai komunitas.

Konsep word of mouth atau gethok tular dia rasa sangat penting. Agar dikenal lebih luas, satu bulan sekali Tekodeko mengadakan Dekofie Talk.

Dalam acara tersebut, beberapa narasumber ternama atau yang mewakili suatu komunitas berbicara di depan hadirin. Selanjutnya Jessie berencana membentuk kelas kreatif.

Dalam mengembangkan kafe, Jessie dkk fokus mengeksplorasi menu kopi. Konsep awal Tekodeko memang berupa koffiehuis, rumah kopi dalam bahasa Belanda.

Keuntungan sebulan kira-kira 50 persen dari pendapatan. Keuntungan itu sebagian dia putarkan lagi untuk biaya operasional.

Sebagian lain digunakan untuk investasi alat dapur dan alat pembuat kopi. Sisanya secara bertahap akan digunakan untuk membiayai perombakan lantai 2.

“Sampai saat ini kami masih belum menemukan sisi paling menarik dari lantai atas. Jadi masih kita simpan dulu ide-idenya,” terang dia.

Dalam benaknya, Tekodeko perlu merangkul para pebisnis. Tak menutup kemungkinan lantai 2 difungsikan menjadi area bisnis.

Tak khawatir bersaing dengan kafe lain di Kota Lama? Di kawasan ini sudah ada beberapa kafe yang berkonsep mirip Tekodeko.

Jessie beranggapan bahwa kafe yang dia kelola memiliki ciri khas. Tekodeko memiliki harga menu yang relatif terjangkau.
Harga kopi Rp 10 ribu-Rp 27 ribu. Adapun makanan berharga mulai Rp 17 ribu.

“Karena Tekodeko lebih fokus ke kopi, kami selalu berinovasi di bidang ini. Pada Mei ini, kami juga akan luncurkan signature coffee khas Semarang,” jelas Jessie. (asti widiyasari)

Sumber