English Bahasa Indonesia

NGABUBURIT SAMBIL NOBAR DAN DISKUSI DENGAN KONTRAS

Jumat, 17 Mei 2019 mahasiswa Fakultas Hukum dan Komunikasi diajak ngabuburit bersama KontraS, sebuah lembaga yang khusus menangani kasus-kasus orandavg hilang sebagai respon praktik kekerasan yang terus terjadi dan menelan banyak korban. Acara ini dibuka dengan penayangan film dokumenter hasil produksi KontraS “NOVUM” yang menceritakan tentang bagaimana perjuangan untuk pengungkapan ketidakadilan di balik proses penjatuhan hukuman mati terhadap Yusman Telaumbanua, seorang anak di bawah umur.

Saat itu, Yusman (15 tahun) diduga terlibat dalam kasus pembunuhan berencana terhadap 4 orang warga Sumatera Utara. Dari hasil investigasi KontraS, ditemukan fakta bahwa korban mengalami penyiksaan selama di dalam tahanan. Selain itu, diketahui ada paksaan dari Anggota Polsek Gunungsitoli Nias terhadap Yusman agar mengakui usianya telah 19 tahun.

davAkibat tekanan dan penyiksaan yang diterima Yusman agar mengakui peristiwa pembunuhan dimaksud, termasuk paksaan untuk mengakui bahwa usianya 19 tahun, Yusman akhirnya diancam dengan pasal 340 KUHP dan divonis hukuman mati. Padahal menurut UU Peradilan Anak, setiap anak di bawah umur yang menjalani proses hukum sebagai tersangka, tidak boleh dipidana dengan hukuman lebih dari 10 tahun. Dengan demikian, tindakan Majelis Hakim PN Gunungsitoli sangat bertentangan dengan hukum.

Setelah pemutaran film selesai, mahasiswa diajak untuk berdiskusi dengan tiga narasumber yaitu Arif Nur Fikri (Kadiv Advokasi KontraS), Zainal Arifin (Direktur LBH Semarang), dan Benediktus D. Setianto (Dosen Prodi Ilmu Hukum, Unika Soegijapranata).

Menurut Nisrina Nadhifah Rahman (Biro Kampanye dan Jaringan KontraS) kegiatan kerjasama KontraS dengan Fakultas Hukum Unika Soegijapranata Semarang sudah untuk kedua kalinya, yang semuanya dilaksanakan di lingkungan kampus Unika. “Melalui kegiatan-kegiatan seperti ini mahasiswa diajak untuk mengetahui masalah-masalah keseharian rakyat tentang ketidakadilan, rekayasa kasus, dan masih banyak ketidakadilan lain yang belum terselesaiakan, salah satunya seperti kasus hukuman mati. Sehingga kita harus mempunyai kepekaan dan penting bagi mahasiswa Fakultas Hukum harus mempunyai kepekaan,  apalagi sebagai calon pembaharu hukum diharapkan mempunyai perspektif tentang HAM, terutama bila dihapakan dengan dilematis praktik hukuman mati”

Menurut Benediktus D. Setianto, S.H., LL.M., M.IL. penerapan hukuman mati di Indonesia sebenarnya masih pro dan komtara, sehingga harapannya sebagai generasi milenial yang kebanyakan kurang mengetahui pergerakan reformasi dan hukuman dengan forum diskusi ini dapat dijadikan sebagai bahan penyadaran bahwa hukuman mati itu tidak gampang.